Behind of Name, “Shabrina Nabila Rizkiana”

Hai! Would you mind knowing me closer? You have to read it carefully 🙂

WhatsApp-Image-20160710 (13)

Hai! My Name is Shabrina Nabila Rizkiana. Usually people call me “Shabi”. I was born on July 26th 1996, so it means this year i am going to twenty one years old. ‘Twenty One’. It isn’t called ‘young’ again. In my life, i have two supermans and two angels. Two supermans are my old brother and my young brother. Why i called them superman? Because, everystep in my life they are always protect me very well. Like my old brother do, he is always ask me where will i go. And my young brother, he is so kind. He is always help me in everythings.I am very glad for having them in my life. For me, they are my supermans who always beside me. And for my angels, they are my mother and my sister. Especially my angel is my mother, because she is the best woman that i have ever seen. And my sister, is my angel too. She is always protect me too like my brothers, but she never show it. She shows that she love me by giving me many things when i need it.

Most of people always say that me is talkactive, i agree about that. I love speak , but sometimes i can be quiet when i am alone or no friends around me just people who i know ordinary. Perhaps many people do that too. But, i have bad characteristic, sometimes i did everything late, i arrived at campus late, did homework late or can’t be on time. I realize about that, i do apologize too, perhaps because of me, there are people who are disadvantage. I will try better everyday, when people say we are meet on 7 a.m, i must attend on 7 a.m or 6.45. Time is so valuable, so i must spend it well. Because we’ll never know when our time is stopping.

I love traveling so much. Although, i am not yet feel many places, but i love to go to new place. I love knowing something new. I love traveling because when i go to new place, i will get something new. For example, when i went to Taman Mini Indonesia Indah, it’s popular place, isn’t it? But i love going there! On there, i can know about everything because there are many museums. My dream is I can go to many places in Indonesia first. I want to visit Yogya, Lombok, Aceh and Raja Ampat too. I love hiking too (although i never try it hehe). For me, when we go around the world, we can see everything that we never imagine.

I love knowing new someone too. I am an extrovert person, exactly! Because i can adapt in new place fastly. I think i match to work with many people. So, one of my activity is always meet people. What is it? Yaps, there is teaching. Yaa, I love teaching so much. I love teach everything, whatever knowledge that i have, i want to share it, although i am not yet having many knowledges. I love teach, i love speak in front of many people. My dream is I want to be trainer or motivator, i wanna be educator too, I want concern in education. For me, education can change everything of life, such as style of life, point of view, the way in solving problems and education can manage the way people talk with other too.

Most of people in the world want to have beautiful future in their life, so I do. Honestly, i want to be Child Psychologist. Nothing is imposible, isn’t it? I want to be child psychologist because everytime i saw children i saw treasure of nation. And i feel every children who i meet, i want to help them to be smart child in their life. So, because of it, i love teach. Not only want to teach children, i want to share with all parents too. I want to discuss about ‘How to be Good Parents’ or ‘How to educate child well’. For me, if parents can educate well, there will children who have good attitude. Because, the best lesson was getting from ‘Family’. I hope when i graduate from Gunadarma University, i can learn about psychology, so that i can share knowledge about children and parents.

Hari ini aku pengecut!

Terlampau sering diri ini lama dalam bergerak. Santai dalam bertindak. Selalu merasa ‘semua akan baik-baik saja’. Yaa, itu benar. Namun, hasil takkan pernah menghianati proses. Proses apa yang aku perjuangkan?? Dalam hati menelisik lebih jauh, bahwa apa yang diri ini harapkan takkan sebanding dengan apa yang diperjuangkan. Makin hari makin merasa, bahwa diri ini tak ubahnya hanya seonggok daging yang masih jauh dari kata ‘baik’. Kapan ingin berubah? Pertanyaan yang selalu terbesit dalam sanubari dan selalu menjadi penyemangat-namun sayang hanya sesaat.

Dan makin menyayat hati ketika hari mulai berganti bulan hingga tahun, sampai pada titik pergantian usia. Hmm. Rasanya. Aku ingin mati saja. Dibandingkan hidup dalam kesia-sian tak berujung.

Aku pengecut! Takut akan keadaan yang buruk. Risau dengan posisi yang tak pasti. Gelisah akan segala kemungkinan yang padahal belum terjadi. Selalu berandai-andai akan kebahagiaan padahal tak pernah memperjuangkannya.

Baiklah. Cukup sudah mencaci diri. Takkan berarti jika tanpa perubahan kualitas diri. Tuhan, bimbing diri ini yang hatinya sulit sekali dimengerti.

Tuhan, kapan aku lulus ujian? (Bagian 1)

Hai! Aku ingin mengajukan satu hal padamu. Apa yang akan kamu lakukan saat guru/dosenmu mengatakan bahwa, “kau akan menjalankan ujian?” . Panik seketika? Bergegas melihat catatan-catatanmu? Atau merasa santai karena itu bukan hal berat bagimu?

Ya, setiap orang punya cara tersendiri saat menerima ujian. Namun, apakah setiap orang punya cara yang sama saat menerima ujian dari Tuhannya?

Sayangnya, ujian dari manusia sangat jauh berbeda dengan ujian yang Tuhan beri. Maha Suci Engkau dari apa yang mereka katakan.

UjianNya. Boleh ku katakan bahwa ujianNya itu unik? Maha Kuasa Engkau atas apa yang terjadi di dunia ini.

Kau tak bisa mengira kapan kau akan diberiNya ujian, kapan ujianNya mulai berlangsung bahkan hingga kapan ujianNya berakhir. Menarik bukan? Kau tak bisa memprediksi layaknya Ujian Sekolah yang hanya berkisar satu atau dua minggu.

Kau tak bisa menggunakan cara-caramu untuk memperoleh jawaban dari orang lain. Buat apa? Soal ujianmu berbeda. Karena Dia Maha Tau jenis ujian seperti apa untuk hambaNya. And exactly, Dia memberikan sesuai kesanggupan hambaNya. 

Bahkan, kisi-kisi yang selalu kau rengek pada pengajarmu pun tak bisa kau dapatkan disini. Dan Dia Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

UjianMu yaa Rabb, ujian kehidupan yang tiada pernah didapat materinya di pendidikan formal atau informal sekalipun.

Ujian yang tak hanya melibatkan konsentrasi fikiran namun juga kejernihan perasaan.

Ujian yang nilainya tak pernah kami ketahui, hanya kami diminta untuk menjalani dan melewati. 

Namun, percayalah Allah selalu punya perhitungan tersendiri dalam menilai hambaNya. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti (Q.S Maryam: 94)

Ya, ujianMu tiada pernah kami duga sebelumnya. Tiada pernah kami sangka akhirannya.

Namun, siapa sangka bahwa inilah pembuktian komitmen ketika kita mulai berucap ‘Saya Beriman’.

Logikanya. Apakah saat kau mengatakan ‘saya bisa mengerjakan soal matriks bu?’ Lalu gurumu percaya begitu saja tanpa mengujimu?

Dan Allah Maha Mengetahui siapa saja hambaNya yang benar-benar beriman.

“Yaa Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah kami diatas agamaMu”

#Masih jauh dari kata baik. Namun berharap ada kebaikan yang bisa mengajak kearah yang lebih baik

Lagi-lagi cuma ‘pengen’

Bismillahirrahmanirrahim~

 

Aku tersentak dengan berbagai buku yang ‘bercecer’ dirumah. Satu-Dua-sampai berhari-hari hanya ku rapikan seadanya, mengurangi cap ‘berantakan’ dalam rumah. Namun, ketika terasa waktu memberikan kelonggaran bagiku untuk merapikan lebih baik. Ku amati satu persatu buku yang kubeli bahkan pemberian dari orang-orang tersayang.

Lagi-lagi cuma pengen.

Sedih rasanya. Ketika melihat toko buku atau pameran buku-buku murah. Otak, hati dan dompet sangat apik bekerja sama. Otak berfikir mana yang akan dibeli, hati atau lebih tepatnya nafsu membantu otak untuk membeli yang dibutuhkan-seringkali yang tak dibutuhkan malah yang dibeli, dompet pun malah ikut serta membantu-seakan akan memberi sinyal bahhwa ia terisi penuh.

Benakku dalam hati “akankah dibaca semua?” seketika ada jawaban yang aku sendiri tak sadar menjawabnya “pasti dibaca!”

Namun, lagi-lagi. Sekali lagi. Bahkan terulang lagi. Ketika sudah sampai rumah, buku-buku yang sudah melambai-lambai kode untuk dibaca itu hanya ku buka plastiknya dan ku beri nama SAJA. Masalah kapan dibaca? Itu urusan nanti.Dan sampai akhirnya buku-buku itupun hanya tersimpan rapi (karena belum disentuh).

Sampai kapan??

Mulailah diri ini mencambuk diri sendiri. Bahwa semestinya keinginan membaca bukan menuruti kata hati namun kemauan tuk meningkatkan kualitas diri. Yaa meskipun belum mampu tuk setiap hari, minimal ada  ilmu yang mengiringi. Semoga konsisten menyertai.

Home to Home!

Lebaraaannnnn!!!!!!!!!!!!!!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Kalo lagi lebaran, identik dengan apaa??
Ketupat??
Opor??
Rendang??
Nastar??
Hehehe pasti lah!!

Tapi untuk Idul Fitri kali ini, aku bersyukur sekali bisa diizinkan untuk membantu menghabiskan makanan dirumah-rumah orang hahahaha *senyum sinis* yang biasa orang sebut-sebut ‘Home to Home’ atau ‘Door to Door’ atau bisa juga ‘Halal Bihalal’, it’s same meaning hehe…

Awalnya ragu untuk ikut kayak gini, dan berharap rumah sendiri-hmm rumah orang tua maksudnya gak didatengin haha. Karena, mainset awal ketika nerima tamu adalah ‘mau dikasih apa?’, ‘rumah rapi gak yaa?’, ‘repot nanti kalo kesini’, ‘makanan ntar abis’ wkwk yang terakhir engga yaa 😀 tapi ternyata setelah melewatinya bareng mereka *eaa rasanya berkunjung dan dikunjungi itu menyenangkan 😀

Ketika kita berpatokan pada ajaran Islam, maka ada hadist yang mengatakan,

Dari Abu Hurairah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

Iyaaps, ternyata emang bener ketika kita berkunjung atau mampir atau numpang makan hehe dengan niat silaturahim (menjaga tali persaudaraan) maka nikmatnya luar biasa. Dari perjalanan hari ini aku belajar banyak hal. Aku belajar kesederhanaan yang terpancar dari keluarga yang kusambangi rumahnya. FYI, hari ini nyamperin 6 rumah sekaligus ._.

Berawal dari rumah pertama, Rumah Kak Ali. Kak Ali emang keliatan banget orangnya ‘low profile’,gak pernah macem-macem atau apalah yang kearah hedon gituu hehe. Ternyata ketika ke rumahnya, terasa banget kalo hidup tuh gak penting kamu kaya, punya ini itu, yang penting sederhana dan bahagia. Melihat raut wajah ayah dan ibunya tercermin banget sifat syukur akan segala nikmat yang dipunya. *Hmm jadi ‘tamparan’ bagi diri sendiri kalau suka ngeluh*

WhatsApp-Image-20160708 (4)

 

Sambung rumah kedua, Rumah Emely. Emil termasuk orang yang selalu ceria, jarang banget nunjukkin rasa susahnya ke orang lain. Dan ternyata ketika kerumahnya, terasa banget kekeluargaan yang amat dalam. Ibu dan Ayahnya yang ramah dan lemah lembut. Pantes anaknya selalu ceria, yaa karena rumahnya selalu memberikan kehangatan dan kenyamanan-yang emil transfer ke temen-temennya ketika keluar rumah.

 

Next Trip kerumah Kak Sari. Nah, yang ini. Ibu Kak Sari selalu bikin aku keinget sama Ibu dirumah. Entah kenapa, kalau sering ketemu banyak ibu (ibu temen maksudnya) kamu akan merasa kalau semua ibu aura-nya sama. Dan ini yang aku rasain ke Ibunya Kak Sari, ngerasa banget kayak ibu sendiri. Ramahnya. Senyumnya,. Becandanya. Lemah Lembutnya. Aah jadi betah (?) hehe…

WhatsApp-Image-20160708 (1)

Gak jauh dari rumah Kak Sari, langsung cus kerumah Via. Via bener-bener ngajarin aku gimana jadi orang yang ‘selalu ramah’, gak peduli siapa orangnya, umurnya berapa atau dia itu hubungannya apa sama kita. Via ramah banget. Sederhana emang, tapi itulah yang bikin orang jadi nyaman sama kita. Ketika kerumahnya, Via pun terlihat kalau emang ‘doi’ wanita yang kuat dan mandiri. Kadang kalau nemu yang kayak gini, suka bikin iri gimanaa gituuu hehehe…

WhatsApp-Image-20160708 (2)

Lanjut kerumah Fani. Pertama kali kerumah Fani dan liat ibunya, fikiran pertama adalah ‘Ibunya masih terlihat muda banget’. Dari sini juga banyak belajar, kalau sesibuk apapun kita diluar, kita harus tetep ngasih tau orang tua gimana keadaan kita, kita kapan pulang, dsb. Padahal cuma terlihat dari pas pulang-mau berangkat lagi kerumah selanjutnya, Fani pas salim ke ibunya berasa gimana gitu hehe *belum nemu kalimat yang pas buat jelasin perasaan itu, yang jelas ketika kamu ngeliatnya mungkin kita punya perasaan yang sama hehe ._.*

WhatsApp-Image-20160708 (3)

Last Home, Rumah Kak Galih. Rumah ini, dimana aku nemu wanita yang gak kalah luar biasanya. Ibunya kak Galih serasa Ibuku hehe ._. maksudnya Ibu Kak Galih berasa banget keibuannya, perhatiannya, lemah lembutnya. Pertama kali ngeliat beliau ketika mau beli makanan yang beliau jual *gak sebut merk takut disangka endorse* dan saat itu memperkuat perasaanku kalau semua ibu nalurinya sama hehe, berharap kalo udah jadi Ibu bisa contoh beliau hehe…

 

Kadang, ketika kita mau mengenal seseorang lebih dekat, kenalilah lingkungan rumahnya, karena itulah ‘madrasah’ pertama baginya. Semoga bisa terus saling mengenal dan saling mencintai karenaNya, agar kebersamaan tak hanya di dunia namun juga di syurga

Akhir Bulan Cinta~

Jikalau diri bisa mengatur, maka tak ku biarkan diri ini terlena dengan waktu…

Jikalau jiwa bisa berkuasa, maka tak ku biarkan rasa malas melanda terlalu lama…

Jikalau nafsu tak meluap begitu mudah, maka api cinta hanya ada padaNya…

 

Sayangnya, diri ini-jiwa yang ada didalamnya-yang entah dihadapanNya seperti apa, sulit sekali membendung perasaan negatif, rasanya jiwa kalah dengan nafsu serta perasaan pembawa kemurkaan…

Saat seperti ini, otak pun mengirim isyarat pada hati agar tak memilih jiwa yang baik budi pekerti, karena apa daya? Yang baik dengan yang baik, begitupun sebaliknya…

 

Harapku, agar hari akhirku tak berujung dengan kelenaan yang tiada manfaat, karena sesungguhnya tiap insan dilihat dari akhir hidupnya…

 

 

Semoga bagian tubuh yang mudah sekali berbolak-balik tetap diluruskan dalam jalanNya~

 

#EdisiSetelahRamadhan
#SemogaIstiqomahSetelahnya

Supporter~

WhatsApp-Image-20160703

Kita kuat bukan karena kita hebat, namun bertahan untuk selalu bersama para penyemangat 🙂
.
.
.
.
.
.
“dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (Q.S 8:63)